Skip to main content
Ilustrasi Laporan Keuangan

Standar Syariah Pada Aspek Ekonomi dan Keuangan Perusahaan (2/3)

Standar syariah pada aspek ekonomi dan keuangan perusahaan adalah seperangkat aturan syariat Islam yang mengatur keluar masuknya harta perusahaan. Dalam aspek ekonomi perusahaan hukum syariah berlaku pada jenis-jenis pemasukan dan pengeluaran perusahaan.

Sedangkan pada aspek keuangan perusahaan hukum-hukun syariah menentukan jenis-jenis akun yang wajib ada terkait dengan jenis pendanaan dan jenis usaha yang dipilih oleh pemilik usaha.

DAFTAR ISI (Bagian 2/3)

Standar Syariah Pada Penyusunan Sistem Keuangan Perusahaan

Format Laporan dan Akun-Akun Keuangan Syariah

Format laporan keuangan disesuaikan dengan bentuk badan dan jenis usaha yang sedang dijalankan oleh perusahaan.

Dengan membuat format yang sesuai dengan bentuk dan jenis usaha, maka dapat dihindarkan adanya kekeliruan dalam mempertanggungjawabkan usaha dari sisi keuangannya.

Pembuatan format laporan keuangan secara umum tidak jauh berbeda dengan format pembuatan laporan keuangan pada perusahaan konvensional. Namun demikian, harus diperhatikan adanya akun-akun yang berbeda terkait bentuk badan dan jenis usaha yang dijalankan.

Akun-akun (jenis pencatatan transaski) yang secara syariah wajib diperhatikan terkait dengan bentuk badan dan jenis usaha tersebut adalah sebagai berikut:

Akun Hutang Piutang

Setiap usaha memungkinkan terjadinya transaksi hutang piutang. Baik hutang jangka panjang maupun hutang jangka pendeka. Baik yang berupa hutang piutang modal usaha maupun hutang piutang penjualan dan pembelian.

Iklan Afiliasi

Setiap pengusaha wajib memperhatikan keberadaan akun ini, sebab akun ini merupakan hasil dari transaksi keuangan yang dituntut oleh syariah untuk diperhatikan.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya…” (TQS. al-Baqarah [2]: 282)

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki pernah berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat Anda jika saya berjihad dengan jiwa dan harta saya, lalu saya tebunuh dalam keadaan bersabar, selalu mengharap ridha Allah, terus maju ke medan perang dan tidak lari kebelakang. Apakah saya masuk surga?” Rasulullah saw menjawab, “Benar (hal itu beliau ucapkan dua atau tiga kali). Beliau lalu bersabda: “Kecuali engkau mati, sementara engkau memiliki hutang dan engkau tidak memiliki harta untuk melunasinya.” (HR. Ahmad dan al-Bazar)

Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Nabi saw pernah bersabda:

Orang kaya yang memperlambat pembayaran hutang merupakan kezaliman.” (HR. Bukhari)

Perhatian setiap pengusaha terhadap akun utang dan piutang usahanya merupakan pengamalan dan bentuk kehati-hatian dirinya terhadap kesalahan dalam membayar utang ataupun kesalahan dalam menuntut piutang.

Akun Simpanan Pengembalian Modal Usaha

Dalam akad kerjasama model syirkah terdapat kaidah bahwa keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian harta ditanggung oleh maal (harta) dalam hal ini adalah pihak shahibul maal.

Dalam syirkah juga terdapat aturan bahwa bagi hasil wajib berdasarkan profit sharing (bagi laba bersih). Dimana yang disebut dengan profit adalah kelebihan yang di dapat dari pengelolaan modal.

Artinya laba bersih dikatakan ada jika total pendapatan selama umur kerjasama lebih besar dari modal yang dikeluarkan, dengan kata lain perhitungan laba bersih adalah setelah modal dikembalikan kepada pemilik modalnya.

Oleh karena itu, dalam bentuk badan usaha syirkah, dimana terdapat modal yang harus dikembalikan sebelum perhitungan laba (rugi) usaha maka perlu dibuatkan akun simpanan pengembalian modal usaha untuk memperoleh nilai total laba bersih yang diperoleh.

Dalam prakteknya pembagian laba (rugi) bersih dapat dilakukan setiap bulan berjalan ataupun pada akhir periode kerjasama.

Jika dilakukan pada akhir periode kerjasama maka, nilai keuntungan merupakan hasil akumulasi pendapatan selama umur usaha dikurangi dengan pengeluaran dan modal usaha.

Sedangkan jika pembagian laba (rugi) dilakukan setiap bulan maka caranya adalah dengan memperhitungkan nilai laba (rugi) yang dibagikan setiap bulan.

Untuk itu perlu dibuat proyeksi perhitungan selama masa investasi berapa nilai tabungan pengembalian modal usaha yang harus disisihkan setiap bulan agar tercapai pengembalian modal usaha selama umur investasi.

Perhitungannya sederhana, misalkan ada orang yang meinvestasikan modalnya dengn syirkah mudharabah selama 5 tahun sebesar Rp 4,5 milyar. Maka nilai tersebut dibagi 60 bulan dan diperoleh nilai pengembalian modal setiap bulan sebesar Rp. 75jt.

Nilai laba harus diperhitungkan setelah memasukkan nilai pengembalian modal tersebut sebagai salah satu pengurang dari laba usaha (apabila pada bulan berjalan diperoleh laba).

Iklan Afiliasi

Akun Simpanan Zakat Usaha Perdagangan

Zakat usaha/barang dagangan (zakah ‘urudh al-tijarah) adalah zakat yang wajib dikeluarkan untuk setiap barang yang dimaksudkan untuk perdagangan.

Setiap usaha yang berbentuk perdagangan barang (produksi manufaktur ataupun trading/distributor) memiliki kewajiban mengeluarkan zakat atas barang yang akan diperdagangkan.

Sedangkan untuk usaha yang lain seperti pertanian, perkebunan dan pemeliharaan hewan ternak maka terdapat aturan zakatnya tersendiri. Silahkan lihat di artikel-artikel sebelumnya.

Hukumnya wajib berdasar As-Sunnah dan Ijma’ Shahabat. Dalil As-Sunnah, diriwayatkan dari Samurah bin Jundub RA, dia berkata,

Amma ba’du. Sesungguhnya Rasulullah SAW memerintahkan kita mengeluarkan zakat dari barang yang kita siapkan untuk perdagangan.” (HR. Abu Dawud).

Dalil Ijma’ Shahabat, diriwayatkan dari Abu ‘Amar bin Hamas dari ayahnya, dia berkata,

Umar bin Khathab memerintahkan aku dengan berkata, ‘Tunaikan zakat hartamu!’ Aku menjawab, ‘Aku tak punya harta selain tempat anak panah dan kulit.’ Umar berkata, ‘Nilailah harta itu dan keluarkan zakatnya!’ (HR. Ahmad & Daruquthni).

Ibnu Qudamah berkomentar kisah ini masyhur dan tak ada seorang shahabat pun yang mengingkarinya sehingga terwujud Ijma’ Shahabat dalam masalah ini.

Zakat perdagangan wajib dikeluarkan jika memenuhi dua ketentuan;

  1. Pertama, nilai barang dagangan mencapai nishab emas (20 dinar = 85 gram emas) atau nishab perak (200 dirham = 595 gram perak).
  2. Kedua, telah berlalu haul (dimiliki selama satu tahun qamariyah).

Besarnya zakat 2,5 persen dari total harta (nilai barang dagangan plus laba).

Contoh, Ahmad mulai berdagang 1 Muharram 1432 H dengan harta yang nilainya kurang dari nishab (misal 10 dinar), lalu di akhir haul (1 Muharram 1433 H) hartanya baru mencapai nishab (20 dinar). Maka dia belum wajib berzakat pada 1 Muharram 1433 H itu, karena hartanya belum haul. Ahmad baru wajib berzakat setelah hartanya memenuhi haul, yaitu setahun berikutnya pada 1 Muharram 1434 H.

Contoh lain, Ahmad mulai berdagang 1 Muharram 1432 H dengan harta yang nilainya sudah melebihi nishab (misal 1.000 dinar). Pada akhir haul (1 Muharram 1433 H) nilai hartanya bertambah menjadi 3.000 dinar. Maka ia wajib berzakat dari harta yang 3.000 dinar ini, bukan dari yang 1.000 dinar.

Besarnya zakat perdagangan 2,5 persen dari total nilai barang dagangan termasuk labanya. Misal pada akhir haul nilai seluruh barang dagangan plus laba 4.000 dinar. Maka zakatnya 2,5 persen dari 4.000 dinar, yaitu 100 dinar. Zakat ini boleh dikeluarkan dalam bentuk mata uang yang beredar atau dalam bentuk barang yang diperdagangkan.

Jika pedagang punya utang, dihitung dulu sisa harta setelah utangnya dibayar. Jika hartanya telah memenuhi dua ketentuan (nishab dan haul), tapi sisa hartanya kurang dari nishab, dia tak wajib berzakat. Misal nilai hartanya 40 dinar, utang 30 dinar.

Iklan Afiliasi

Maka sisa hartanya (10 dinar) kurang dari nishab (20 dinar), sehingga tak wajib berzakat. Jika sisa harta lebih dari nishab, tetap wajib berzakat. Misal nilai hartanya 40 dinar, utang 10 dinar.

Maka sisa hartanya (30 dinar) masih melebihi nishab (20 dinar), sehingga tetap wajib berzakat, yaitu 2,5% dari 30 dinar.

Jika ia punya piutang di tangan orang lain, harus dilihat dulu. Jika orang lain itu mampu dan tidak suka menunda pembayaran utang, piutang itu tetap wajib dizakati. Jika orang itu tak mampu atau suka menunda pembayaran utang, piutang itu tak wajib dizakati.

Sebagai contoh pencatatan dan perhitungan zakat usaha perdagangan adalah sebagai berikut:

Sebuah usaha dagang jual beli kedelai impor melakukan pembelian kedelai pada bulan januari (memulai usaha) dengan nominal 500 juta. Pembelian dari kedelai dilakukan dengan metode kredit (utang dagang). Penjualan kedelai dilakukan secara tempo/kredit kepada para distributor. Pembelian dan penjualan barang dagangan (kedelai tersebut) rutin dilakukan setiap bulannya. Sampai pada akhir tahun (per 31 bulan desember) tercatat stok kedelai sejumlah 1.000.000.000,- dan piutang usaha sebesar 1.500.000.000,- sedangkan utang dagang sebesar 750.000.000,-. Utang usaha lain-lain 250.000.000,- Diketahui harga emas adalah 500.000/gram. Maka perhitungan zakat perdagangan yang wajib dibayarkan bulan januari tahun berikutnya adalah:

Tabel 1. Contoh Perhitungan Zakat Usaha

Tabel 1. Contoh Perhitungan Zakat Usaha

Perhitungan dan pembayaran zakat dilakukan setiap satu tahun sekali sesuai dengan nishab dan haul-nya. Perhitungan zakat usaha bukan dilakukan berdasarkan laba usaha yang didapat, melainkan berdasarkan banyaknya harta yang diperdagangkan, baik yang berupa stok, yang sedang dijual maupun yang sudah dijual (piutang dagang).

Untuk memudahkan dan ‘meringankan’ para pengusaha dalam membayarkan zakatnya ketika nishab dan haul-nya terpenuhi, maka pengusaha dapat menyisihkan 2,5% dari hasil labanya setiap bulan ke dalam akun dana zakat. Jika pada akhir tahun ternyata nishab-nya tidak sampai, maka tidak ada zakat bagi pengusaha, uang yang telah disisihkan sebagai dana zakat dapat digunakan untuk keperluan lain sesuai kebijakan pengusaha (untuk infak dan shodaqoh misalnya).

Dalam badan usaha yang berbentuk perseroan (syirkah). Maka semua owner/pemilik (pengelola maupun pemodal) memiliki kewajiban yang sama untuk mengeluarkan zakat usahanya. Untuk itu dapat dibuatkan akun pada laporan laba-rugi sebuah akun zakat sebelum dibagi hasilkan. Laba rugi bersih yang dibagikan adalah laba rugi bersih yang sudah dikurangi tabungan untuk zakat perdagangan.

Tabel 2. Contoh Laporan Laba Rugi Usaha

Tabel 2. Contoh Laporan Laba (Rugi) Usaha

 

Bersambung ke bagian tiga ...

 

Wallahu a'lam bish showaab.

 

Sumber: eBook Standar Syariah Pada Aspek Keuangan Bag. 1 karya Ustadz Fauzan Al Banjari.

 

RuangMuamalah.id didukung oleh pembaca. Kami dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Komisi afiliasi ini kami gunakan untuk pengelolaan website. Terima kasih.

Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

#KonversiBisnisSyariah, #ArtikelUstadzFauzanAl-Banjari, Standarisasi Syariah, Ekonomi dan Keuangan