Skip to main content
Ilustrasi Pemberian Komisi

Standar Syariah Pada Aspek Pemasaran: Trik Yang Diharamkan (Komisi)

Pada bagian ketiga pembahasan standar syariah aspek pemasaran ini kami sampaikan 2 pembahasan. Pertama adalah jenis-jenis jual beli yang diharamkan dan kedua adalah trik-trik pemasaran yang diharamkan.

DAFTAR ISI

Trik-Trik Pemasaran Yang Diharamkan.

Dalam dunia bisnis kapitalis saat ini banyak trik-trik yang dilakukan untuk memperoleh pelanggan atau suatu proyek. Bahkan berbagai macam trik tersebut dianggap biasa-biasa saja karena telah umum dilakukan.

Beberapa trik marketing yang harus ditinggalkan oleh para pebisnis muslim adalah:

Komisi

Iklan Afiliasi

Komisi adalah kompensasi atas jasa menghubungkan pihak penjual dan pembeli (simsar/perantara) agar terjadi transaksi jual beli. Hukum asal dari pekerjaan makelar adalah mubah (boleh). Sebab, Rasulullah SAW. sendiri mengakui pekerjaan para makelar.

Namun, beliau SAW juga telah memberitahukan kepada kita adanya pekerjaan makelar yang haram sehingga mengharamkan pula komisi (upah) yang diperoleh dari pekerjaan tersebut.

Sa’id bin al-Musayyib mendengar Abu Hurairah ra. mengatakan, bahwa Rasulullah SAW, telah bersabda:

Janganlah kalian mencegat rombongan dagang (sebelum sampai di pasar) dan jangan pula sebagian kalian membeli barang yang dibeli orang lain (sedang ditawar) dan janganlah melebihkan harga tawaran barang (yang sedang ditawar orang lain, dengan maksud menipu pembeli) dan janganlah orang kota membeli buat orang desa.” (HR. Al-Bukhari)

Janganlah orang membeli sesuatu yang sedang ditawarkan kepada saudaranya, janganlah bersaing merendahkan harga (untuk merebut pembeli) dan janganlah penduduk kota menjualkan barang dagangan orang desa.” (HR. al-Bukhari)

Ibnu Abbas pernah ditanya tentang sabda Rasulullah saw., janganlah penduduk kota menjualkan barang dagangan, dan beliau menjawab:

Janganlah seseorang jadi perantara (makelar, calo, broker) bagi orang kota.” (HR. Bukhari)

Dari penelaahan terhadap hadits-hadits ini dan lainnya, menjadi jelas bahwa didalamnya Rasul melarang orang kota untuk membelikan sesuatu untuk orang padang sahara. Yang serupa dengan mereka adalah orang desa atau orang pegunungan.

Rasul juga melarang laki-laki untuk membeli sesuatu atas pembelian saudaranya, jika pembelian saudaranya tersebut telah sempurna.

Artinya, beliau melarang laki-laki untuk mendatangi barang yang telah dibeli oleh orang lain, lalu dia menambah harga yang dengannya barang tersebut telah dijual, dan membeli barang tersebut, agar pemilik barang tersebut membatalkan penjualan pertama.

Rasul juga melarang najasy, yaitu menambah harga barang tanpa bermaksud untuk membelinya. Artinya, orang yang tidak bermaksud membeli barang tersebut menambah harga barang tersebut, agar orang yang menawar barang tersebut mengikutinya.

Sehingga, orang yang menawar barang tersebut menyangka bahwa dia tidak menambah harga kecuali sesuai dengan barang tersebut. Dengan begitu dia tertipu dan menambah harga untuk membeli barang tersebut. Rasul juga melarang mencegat orang-orang yang berkendaraan.

Iklan Afiliasi

Yaitu, orang kota keluar menemui orang desa yang sedang membawa barang, lalu memberitahukan harga kepadanya dan berkata: "Aku akan menjualkan untukmu."

Atau dia membohongi orang desa tersebut dalam hal harga, sehingga dia membeli barangnya dengan harga yang lebih murah dari harga standar. Atau dia memberitahukan kepada mereka tentang banyaknya beban yang harus mereka tanggung jika mereka memasuki kota.

Atau dia memberitahukan kepada mereka tentang tidak lakunya barang yang mereka bawa, atau tentang lesunya pasar. Dan Rasul juga melarang mencegat barang yang didatangkan dari desa, yaitu sama dengan mencegat orang-orang yang berkendaraan.

Inilah pekerjaan-pekerjaan yang dilarang oleh Rasul. Sebagian di antaranya berkaitan langsung dengan perdagangan perantara (makelar), dan sebagian diantaranya berkaitan dengan jual beli.

Dan dengan meneliti hadits-hadits yang menyebutkan pelarangannya, menjadi jelas bahwa larangan di dalamnya mengarah pada 'sifat yang dipahami (washfun mufham)'. Artinya, sifat yang darinya dipahami bahwa karena dialah larangan terjadi.

Jika 'sifat yang dipahami' ini terdapat dalam perintah atau larangan, maka berarti perintah dan larang tersebut memiliki 'illah. Dan makna yang dimuat oleh 'sifat yang dipahami' inilah yang 'illah perintah dan larangan tersebut.

Sehingga, pewajiban atau pengharaman yang ada dia dalamnya terikat dan tergantung pada 'illah tersebut. Jika 'illah tersebut ada, maka hukum ada. Dan jika 'illah tersebut hilang, maka hukum hilang pula. Sehingga, hukum tersebut berputar bersama 'illah dari sisi ada dan tidaknya.

Dan jika 'illah tersebut terdapat dalam selain pekerjaan yang dilarang tersebut, maka hukum berlaku padanya dengan perantaraan qiyas (analogi).

Orang kota dan orang padang sahara, pembelian atas pembelian saudaranya, najsy, mencegat orang-orang yang berkendaraan, dan mencegat dagangan orang desa, semuanya adalah 'sifat yang dipahami'. Dengan demikian, dia adalah sesuatu yang karenanya larangan ada.

Artinya, makna yang dia kandunglah yang menyebabkan hukum ada.

Iklan Afiliasi

Hukum bergantung pada kodisi orang padang sahara karena di dalamnya terdapat 'illah ketidaktahuan tentang harga; bergantung pada pembelian atas pembelian saudaranya karena di dalamnya harga telah tetap dan salah seorang dari keduanya (penjual dan pembeli pertama) telah bersandar pada yang lain; bergantung pada najsy karena orang yang melakukannya tidak bermaksud membeli barang, tapi bermaksud merugikan pembeli; dan bergantung pada mencegat orang-orang yang berkendaraan dan mencegat barang yang didatangkan dari desa karena mengakibatkan naiknya harga bagi penduduk kota atau murahnya harga bagi orang yang membawa barang tersebut dari desa. Jika makna-makna ini terdapat dalam jual beli tersebut, maka jual beli beli diharamkan dan perdagangan perantara di dalamnya diharamkan pula.

Tapi jika makna-makna tersebut tidak terdapat di dalamnya, maka jual beli tidak diharamkan dan perdagangan perantara tidak diharamkan pula.

Umar bin Khattab telah memahami larangan bagi orang kota untuk membelikan sesuatu untuk orang desa bahwa 'illah di dalamnya adalah ketidaktahuan harga. Dia berkata:

"Tunjukkan pasar kepada mereka dan tunjukkan jalan kepada mereka. Beritahukan kepada mereka tentang harga."

Sedangkan terkait pemberian komisi kepada pejabat pemerintahan oleh para pengusaha maka hal ini telah jelas keharamannya berdasarkan hadits-hadits Rasulullah SAW yang telah disebutkan tentang suap dan hadiah diatas juga sabda beliau berikut:

Siapa saja yang kami (negara) beri tugas untuk melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami berikan rezeki (upah/gaji), maka apa yang diambil olehnya selain dari (upah/gaji) itu adalah ghulûl (kecurangan).” (HR Abu Dawud).

Hadits ini dengan tegas melarang siapa pun—baik kepala negara (Khalifah), wali (gubernur), amil (pejabat setingkat bupati/walikota), qâdhî (para hakim), termasuk para pegawai—untuk mengambil kelebihan (harta) dalam bentuk apa pun dari yang telah ditetapkan (berupa ujrah) atas mereka.

Apabila hal itu dilanggar dan mereka mengambil (harta) lebih dari ujrah yang menjadi hak mereka (sebagai pegawai) maka perbuatannya itu dimasukkan ke dalam perbuatan curang; hartanya termasuk harta ghulûl (hasil kecurangan yang diharamkan) dan pada Hari Kiamat ia akan memikulnya sebagai azab.

Hadits ini juga bersifat umum kepada siapa saja yang telah diberikan pekerjaan oleh musta’jir (majikan)-nya untuk tidak mengambil apapun di luar dari ujrah yang ditetapkan kepadanya.

 

Wallahu a'lam bish showaab.

 

Bahan Rujukan

  1.  

 

Sumber: eBook Standar Syariah Pada Aspek Pemasaran Bag 3 karya Ustadz Fauzan Al Banjari.

 

RuangMuamalah.id didukung oleh pembaca. Kami dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Komisi afiliasi ini kami gunakan untuk pengelolaan website. Terima kasih.

Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

#KonversiBisnisSyariah, #ArtikelUstadzFauzanAl-Banjari, Standarisasi Syariah