Skip to main content
Ilustrasi Tumpukan Barang

Standar Syariah Pada Aspek Strategi Bauran Pemasaran: Harga (2/2)

Strategi pemasaran yang paling umum dan standar digunakan oleh kebanyakan perusahaan adalah strategi bauran pemasaran (marketing mix) yang terdiri dari produk (Product), harga (Price), Saluran Penjualan (Placement), dan Promosi (Promotion). Berikut ini kami sampaikan standar-standar syariah terkait Harga (Price): Penjualan Najasy dan Ihtikar.

DAFTAR ISI

Iklan Afiliasi

Standar Syariah Terkait Harga (Price)

Penetapan harga di dalam Islam mengikuti hukum supply dan demand secara wajar. Dan kesepakatan harga terjadi antara penjual dan beli dengan keridhaan keduanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Sesungguhnya jual beli itu (sah karena) karena saling ridha” (HR. Ibnu Majah)

Islam telah melarang pematokan harga (tas’ir) yang dilakukan oleh penguasa dengan mematok harga minimum dan harga maksimum. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis dari Anas yang mengatakan:

Harga pada masa Rasulullah saw membumbung tinggi. Lalu mereka (para Sahabat) berkata, “Ya Rasulullah, patoklah harga untuk kami.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allahlah Yang Maha Menentukan Harga, Maha Menggenggam, Maha Melapangkan dan Maha Pemberi Rezeki; sementara aku sungguh ingin menjumpai Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntut aku karena kezaliman dalam hal darah dan harta (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Dawud, ad-Darimi dan Ahmad).

Imam Abu Dawud juga menuturkan hadis dari Abu Hurairah yang mengatakan:

Seorang laki-laki datang dan berkata, “Ya Rasulullah, patoklah harga.” Beliau menjawab, “Akan tetapi, aku akan berdoa (agar harga turun).” Kemudian datang lagi seorang laki-laki dan berkata, “Ya Rasulullah, patoklah harga.” Beliau bersabda, “Akan tetapi, Allahlah Yang menurunkan dan menaikkan (harga). Sungguh, aku berharap menjumpai Allah, sementara tidak ada seorang pun yang memiliki (tuntutan) kezaliman kepada aku (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Terdapat kebebasan bagi para pedagang untuk menetapkan harga jual produknya sesuai dengan supply dan demand serta keridhaan pembelinya.

Namun, demikian syariah juga telah memberikan rambu-rambu agar para pedagang tidak melakukan sejumlah tindakan terkait dengan harga jual, yaitu:

Larangan Model Penjualan Najasy

Syariah telah melarang praktek jual beli dengan model najasy, yaitu seseorang menawar suatu barang tanpa bermaksud untuk membelinya, tetapi dimaksudkan supaya para pembeli tertarik untuk ikut membeli dan menawar dengan harga yang lebih tinggi; baik itu merupakan hasil persengkongkolan dengan rekannya atau tidak.

Ini berdasarkan riwayat dari Ibn Umar ra.:

Rasul saw. telah melarang jual-beli dengan sistem najasy. (HR. al-Bukhari).

Larangan Melakukan Ihtikar

Penimbunan (ihtikar) adalah perbuatan orang yang menumpuk/menimbun barang dagangan sehingga harga barang-barang tersebut naik dan dia bisa menjualnya dengan harga yang tinggi, yang mengakibatkan warga setempat sulit untuk membelinya.

Penimbunan merupakan suatu cara bagi manusia untuk dapat memperbesar harta kekayaannya.

Penimbun adalah orang yang mengumpulkan barang-barang dengan menunggu waktu naiknya harga barang-barang tersebut, sehingga dia bisa menjualnya dengan harga yang tinggi, sementara masyarakat mengalami kesulitan untuk menjangkau harganya.

Cara seperti ini adalah cara yang telah diharamkan oleh Islam.

Penimbunan secara mutlak dilarang, dan hukumnya haram. Karena adanya larangan yang tegas di dalam hadits. Diriwayatkan di dalam Shahih Muslim dari Sa'id Bin Al Musaib dari Ma'mar Bin Abdullah Al Adawi, bahwa Nabi SAW bersabda:

"Tidak akan melakukan penimbunan selain orang yang salah." (HR. Muslim)

Al-Atsram meriwayatkan dari Abi Umamah mengatakan:

"Rasulullah SAW telah melarang penimbunan makanan."

Imam muslim juga menuturkan hadits dengan sanad dari said bin al Musayyab bahwa Muammar berkata:

Siapa saja yang melakukan penimbunan, dia telah berbuat salah” (HR. Muslim)

Larangan di dalam hadits tersebut, menunjukkan adanya tuntutan untuk meninggalkan.

Sementara celaan bagi orang yang melakukan penimbunan dengan sebutan khati' -padahal khati' adalah orang yang berdosa dan berbuat maksiat adalah sebagai indikasi yang menunjukkan, bahwa tuntutan untuk meninggalkan tersebut bermakna tegas (jazm).

Dari sini maka hadits-hadits tersebut menunjukkan haramnya melakukan penimbunan.

Adapun keadaan penimbun sebagai orang yang menumpuk barang-barang dengan menunggu harga naik semata-mata karena makna kata hakara menurut bahasa adalah istabadda (bertindak sewenang-wenang).

Yang termasuk makna kata tersebut adalah praktik kesewenang-wenangan dengan menahan barang dagangan, agar kelak dijual dengan harga mahal.

Kalimat ihtakara as syai'a, menurut makna bahasa, bermakna jamma'ahu wa ihtabasahu intidhar[an] li ghila'ihi fa yabi'u bil katsiri (mengumpulkan sesuatu dan menahannya dengan menunggu harganya naik, lalu menjualnya dengan harga yang tinggi).

Disebut penimbunan jika memang memenuhi syarat, yakni sampai pada batas-batas yang menyulitkan warga setempat untuk membeli barang yang ditimbun. Pasalnya, fakta penimbunan memang tidak akan terjadi selain dalam keadaan semacam ini.

Kalau seandainya penumpukkan barang tidak menyulitkan warga setempat untuk membelinya maka tentu penimbunan barang tersebut tidak terjadi. Dengan kata lain, tidak terjadi kesewenang-wenangan terhadap barang tersebut, sehingga bisa dijual dengan harga mahal.

Atas dasar ini, syarat terjadinya penimbunan bukanlah semata-mata pembelian barang dan menyimpannya.

Akan tetapi semata-mata karena menumpuk barang dagangan dengan menunggu harga naik agar bisa menjualnya dengan harga mahal, itulah yang dianggap sebagai penimbunan; baik menimbunnya dengan cara memborongnya atau karena hasil buminya yang luas sementara hanya dia yang mempunyai jenis hasil bumi tersebut, atau karena langkanya tanaman tersebut, atau menimbunnya untuk kepentingan industri-industrinya (monopoli), sementara hanya dia yang mempunyai industri tersebut, atau karena langkanya industri tersebut, sebagaimana berbagai kasus penimbunan yang terjadi dalam sistem kapitalis saat ini.

Mereka biasanya melakukan penimbunan produk dengan membunuh semua industri yang ada, selain industri mereka sendiri. Kemudian mereka mendominasi pasar.

Jadi, semua ini merupakan praktik penimbunan, sebab semuanya sesuai dengan makna kata ihtakara-yahtakiru, menurut makna bahasa.

Dimana, makna hukratu-ihtikar adalah membatasi jumlah barang atau barang-barang tertentu untuk dijual dengan menunggu naiknya harga, lalu menjualnya ketika harganya membumbung.

Dengan demikian, praktik penimbunan dalam segala hal hukumnya haram, tanpa dibedakan apakah menimbun makanan pokok manusia, atau hewan ataupun yang lain. Tanpa dibedakan antara menimbun makanan dan non makanan.

Tanpa dibedakan antara benda yang merupakan kebutuhan primer manusia atau skunder. Sebab, makna ihtakara dalam bahasa adalah mengumpulkan sesuatu secara mutlak.

Dimana, makna kata ihtakara tersebut bukan hanya berarti menumpuk makanan, makanan pokok, kebutuhan primer manusia, tetapi juga mencakup menumpuk apa saja.

Karena hadits-hadits yang ada menyatakannya dengan mutlak, tanpa disertai batasan apapun, serta umum dengan tidak disertai adanya takhshis. Sehingga, kemutlakan dan keumumannya tetap berlaku.

Seorang penimbun faktanya adalah orang yang mendominasi dan memaksakan harga seenaknya kepada masyarakat karena dia menimbun barang.

Akibatnya, masyarakat mengalami kesulitan atau terpaksa membeli darinya dengan harga yang sangat tinggi. Karena orang lain tidak mempunyai barang yang mereka butuhkan.

Dengan demikian, pada dasarnya seorang penimbun ingin menaikkan dan memaksakan harganya kepada kaum muslim, tindakan demikian haram berdasarkan riwayat dari Ma'qal Bin Yassar yang mengatakan Rasulullah Saw bersabda:

"Siapa saja yang mengintervensi harga di tengah-tengah kaum Muslim, agar dia bisa menaikkan harga tersebut kepada mereka, maka kewajiban Allah untuk mendudukkannya dengan sebagian besar (tempat duduknya) dari api neraka, kelak pada hari kiamat nanti." (HR. Ahmad)

 

Wallahu a'lam bish showaab.

 

Bahan Rujukan

 

Sumber: eBook Standar Syariah Pada Aspek Pemasaran Bag 2 karya Ustadz Fauzan Al Banjari.

 

RuangMuamalah.id didukung oleh pembaca. Kami dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Komisi afiliasi ini kami gunakan untuk pengelolaan website. Terima kasih.

Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

#KonversiBisnisSyariah, #ArtikelUstadzFauzanAl-Banjari, Standarisasi Syariah