Skip to main content
Ilustrasi orang Berjabat Tangan

Akad Bisnis Syariah: Pengertian, Syarat, Rukun dan Implikasinya (1/2)

Berikut lanjutan pembahasan muamalah islam, dengan tema akad bisnis syariah yang mencakup pengertian, syarat dan rukun, serta implikasi status hukumnya (Bagian 1 dari 2 tulisan):

DAFTAR ISI 

Iklan Afiliasi

Urgensitas Akad Bisnis Syariah

Sahabatku Konsultan Bisnis Syariah Rahmatullahi Alaykum, kita manusia adalah makhluk sosial pasti butuh pada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Ini berarti, setiap orang pasti butuh untuk hidup bersama dengan orang disekelilingnya.

Dalam pemenuhan kebutuhannya tersebut setiap kita kemudian melakukan transaksi dengan orang lain. Setiap orang mendapatkan rezeki dan kemudahan yang berbeda-beda.

Dan apa yang sudah menjadi milik orang lain, maka itu tidak boleh direbut atau diambil kecuali dengan transaksi (akad) yang dibenarkan syari'at.

Akad atau transaksi itu dalam dunia bisnis menjadi teramat penting, sebab akad inilah yang menentukan sah atau tidaknya interaksi bisnis kita dengan orang lain.

Akad menentukan sah atau tidaknya hak milik orang lain menjadi hak milik kita. Akad ini jugalah yang mengatur hubungan antar pihak yang terlibat. Akad itu juga yang mengikat hubungan antar mereka sejak akad dibuat sampai masa berlakunya habis.

Hukum-hukum syariah dalam fikih muamalah yang kita miliki memuat berbagai rincian dan penetapan dasar-dasar berbagai macam akad tersebut sehingga tujuan akad bisa terealisasi dan dapat memenuhi kebutuhan umat.

Semakin jelas rincian dan kecermatan dalam membuat akad, maka peluang konflik dan pertentangan yang mungkin timbul di masa mendatang semakin kecil.

Dari sini, seorang muslim seharusnya merasa tertantang untuk serius memperhatikan masalah akad ini, mulai dari menyusun konsep, managemen dan mensukseskannya. Karena Allah Azza wa Jalla berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” (TQS. al-Mâidah [5]: 1)

Akad-akad yang wajib dipenuhi di dalam bisnis tentu saja adalah akad-akad yang syar’i, yaitu akad-akad yang dibuat sesuai dengan ketentuan syariah.

Sebab ketika akad-akad tersebut dibuat tidak sesuai dengan syariah, maka yang terjadi adalah memakan harta orang lain dengan jalan yang batil.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan saling ridho di antara kamu.” (TQS. An Nisa [4]: 29).

Dengan jalan yang batil pada ayat ini menurut Imam Ibnu Katsir adalah melalui usaha yang tidak diakui oleh syariah. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim Juz 2: 268)

Karenanya seorang muslim tidak boleh lalai terkait perkara akad ini, sebab akad tersebut akan menjadi induk atau sumber keshahihan atau kebatilan transaksi bisnis.

Kebatilan dalam akad sebagaimana seseorang yang melangsungkan pernikahan namun akadnya tidak sah, maka seluruh aktivitasnya dalam berhubungan suami isteri menjadi keharaman dan bahkan perzinaan, naudzubillah.

Iklan Afiliasi

Begitupula dalam bisnis, akad yang batil membuat transaksi tidak sah, sehingga memperoleh harta atau jasa dari pihak lain menjadi haram dan tidak diberkahi.

Wajib bagi seorang konsultan bisnis syariah untuk memahami hukum-hukum tentang akad ini agar tidak keliru dalam menerapkan kepada para pengusaha. Terlebih lagi saat ini berbagai transaksi menggiurkan bermunculan seperti jamur di musim hujan.

Antusias masyarakat luas dan respon positip mereka telah mengecoh banyak kaum Muslimin untuk ikut andil. Padahal seharusnya sebagai seorang Muslim, kita terlebih dahulu harus melihat dan menimbangnya dengan aturan agama kita.

Jika tidak bertentangan denganhukum syariah tentang akad dan berminat, baru ikut andil. Jika bertentangan, maka tinggalkanlah meski transaksi tersebut tampak sangat menarik.

Akad Bisnis Syariah

Pengertian Akad Bisnis Dalam Islam

Pengertian akad secara syariah adalah keterpautan antara ijab dengan qabul dalam konteks yang dibenarkan syariah, yang memunculkan implikasi pada obyek akadnya. Akad adalah mengaitkan dua kehendak dari dua pihak yang melakukan transaksi melalui ijab dan qabul.

Ijab adalah ucapan transaksi yang dikeluarkan oleh pihak pertama yang ber-akad sebagai wujud dari kehendaknya yang tegas dalam melangsungkan transaksi, seperti perkataan; “Saya menjual (bi’tu)”, atau “Saya membeli (isytaraytu).”

Sedangkan qabul adalah apa yang keluar dari pihak kedua setelah adanya ijab yang merupakan persetujuannya terhadap ijab.

Ketika ijab dan qabul terjadi sesuai dengan syarat-syarat syar’i-nya maka diantara kedua pihak yang bertransaksi telah terjadi suatu ikatan, yaitu ikatan diantara kedua pihak terhadap obyek akad.

Obyek akad adalah implikasi yang diinginkan dari akad, yang karenanya akad tersebut secara syar’i harus dilaksanakan oleh kedua pihak.

Iklan Afiliasi

Contoh, akad jual beli; pernyataan “aku menjual” dan “aku membeli” memberikan makna syar’i, yaitu jual-beli, yang menetapkan adanya implikasi syariah berupa kepemilikan barang yang dijual oleh pembeli dan kepemilikan atas harganya bagi penjual.

Akad jual-beli dalam pandangan syariah, akan mengikat dengan ikatan yang menetapkan bagi kedua pihak implikasi jual-beli tersebut pada obyek akadnya, yaitu pada suatu harta yang dimaksudkan oleh keduanya untuk dipertukarkan hak-haknya atas harta tersebut.

Implikasinya adalah perpindahan kepemilikan harta si penjual kepada si pembeli dan perolehan penjualan atas pembayaran harganya.

Contoh lain, akad agunan (ar-rahn) menetapkan implikasi dari keterpautan harta yang diagunkan sampai terlunasinya pinjaman.

Akad agunan juga menetapkan  adanya kewajiban untuk menjaga dan melindungi harta yang diagunkan itu seperti melindungi harta sendiri sampai agunan itu dilepaskan atau harta yang diagunkan itu dijual untuk melunasi utang. Harta yang diagunkan adalah obyek akad.

Hak menahan harta itu juga merupakan obyek akad. Itulah sifat syar’i yang menjadikannya khas, berbeda dengan akad-akad yang lain.

Setelah terakadkan, maka kedua pihak harus mengikuti implikasi yang telah diatur dan ditetapkan oleh syariah terhadap harta yang diagunkan itu sebagai hasil dari akad agunan (ar-rahn).

Rukun Akad Bisnis Syariah

Rukun merupakan bagian dari sesuatu dan tidak dapat dipisahkan darinya. Sesuatu tidak utuh jika tanpa keberadaannya. Contohnya adalah ruku di dalam sholat, merupakan bagian rukun dari sholat dan tidak bisa dipisahkan darinya.

Begitu pula dengan akad, akad tidak dikatakan ada secara utuh jika ada rukunnya yang tidak dilakukan. Dengan kata lain akad dianggap tidak ada (batil) jika meninggalkan salah satu rukunnya. Rukun akad itu ada tiga yaitu:

  1. Dua pihak yang berakad (Al-’Âqidân).
  2. Obyek akad (Al-Ma’qûd ‘alayh).
  3. Redaksi akad (Shighât al-‘aqd).

Bersambung ke bagian dua ...

 

Sumber: ebook Akad Bisnis Syariah oleh Ustadz Fauzan Al Banjari


RuangMuamalah.id didukung oleh pembaca. Kami dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Komisi afiliasi ini kami gunakan untuk pengelolaan website dan perpanjangan sewa domain serta hosting. Jazakallah khoir.


 

 

#KonversiBisnisSyariah, #ArtikelUstadzFauzanAl-Banjari, Akad Bisnis Syariah