Skip to main content
Ilustrasi Kontrak Kerjasama

Multi Akad (Hybrid Contract): Pengertian, Hukum dan Tarjih Hukum (2/2)

Sahabat, saat ini disekitar kita banyak akad bisnis yang dibuat sedemikian rupa untuk merealisasikan keinginan untung yang lebih besar atau meminimalkan kerugian. Bahkan akad dibuat hanya ingin untung dan menghilangkan resiko kerugian.

Untuk tujuan tersebut maka akad pun dibuat dengan bentuk yang bermacam-macam, ada yang dicampurkan (digabungkan) atau dipersyaratkan antar satu akad dengan akad yang lainnya.

Salah satunya yang telah banyak digunakan adalah sistem sewa beli (leasing) dalam kepemilikan kendaraan atau barang lainnya.

Selain di bisnis konvensional, ternyata penggabungan akad (multiakad) ini juga banyak terjadi diperbankan syari’ah, pegadaian syari’ah, BMT dan model pembiayaan lainnya.

Bagaimanakah sesungguhnya hukum syari’at Islam terkait dengan multiakad ini? Kami bawakan pendapat guru dan mentor bisnis syari’ah kami KH. Muhammad Shiddiq Al-jawi, sebagai berikut:

DAFTAR ISI (Bagian 2/2)

 

Iklan Afiliasi

Tarjih Hukum Multiakad

Dari dua pendapat di atas, pendapat yang kuat (rajih) menurut kami adalah pendapat kedua, yaitu pendapat yang mengharamkan multiakad. Alasan pen-tarjih-annya adalah sebagai berikut:

Pertama, telah terdapat dalil-dalil hadis yang dengan jelas melarang penggabungan dua akad atau lebih ke dalam satu akad. Di antaranya adalah hadis Ibnu Mas’ud ra. bahwa:

Nabi saw. telah melarang dua kesepakatan [akad] dalam satu kesepakatan akad. (HR. Ahmad)

Imam Taqiyuddin an-Nabhani, menjelaskan bahwa yang dimaksud dua kesepakatan dalam satu kesepakatan (shafqatayn fi shafqah wahidah) dalam hadis itu, artinya adalah adanya dua akad dalam satu akad.

Misal: menggabungkan dua akad jual-beli menjadi satu akad, atau akad jual-beli digabung dengan akad ijarah.(1)

Kedua, kaidah fikih yang dipakai pendapat yang membolehkan, yaitu al-ashlu fi al-muamalat al-ibahah tidak tepat. Pasalnya, ditinjau dari asal-usulnya, kaidah fikih tersebut sebenarnya cabang atau lahir dari kaidah fikih lain yaitu:

Hukum asal segala sesuatu adalah boleh selama tak ada dalil yang mengharamkan-nya. Padahal kaidah fikih tersebut hanya berlaku untuk benda (materi), tidak dapat diberlakukan pada muamalah. Sebab, muamalah bukan benda, melainkan serangkaian aktivitas manusia.

Mengapa dikatakan bahwa kaidah tersebut hanya berlaku untuk benda?

Sebab, nash-nash yang mendasari kaidah al-ashlu fi al-asy-ya’ al-ibahah (misal QS Al-Baqarah [2]: 29) berbicara tentang hukum benda (materi), misalnya hewan atau tumbuhan, bukan berbicara tentang muamalah seperti jual-beli.

Iklan Afiliasi

Ketiga, kaidah fikih al-ashlu fi al-muamalat al-ibahah juga bertentangan dengan nash syari’ah sehingga tidak boleh diamalkan.

Nash syari’ah yang dimaksud adalah hadis-hadis Nabi saw. yang menunjukkan bahwa para Sahabat selalu bertanya lebih dulu kepada Rasulullah saw. dalam muamalah mereka.

Kalau benar hukum asal muamalah itu boleh, tentu para Sahabat akan langsung beramal dan tak perlu bertanya kepada Rasulullah saw.

Sebagai contoh, perhatikan hadis yang menunjukkan Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. dalam masalah muamalah sebagai berikut:

Hakim bin Hizam ra. berkata, “Aku pernah bertanya, ’Wahai Rasulullah saw., sesungguh-nya aku banyak melakukan jual-beli, apa yang halal bagi diriku dan yang haram bagi diriku?’ Rasulullah saw. menjawab, ’Jika kamu membeli suatu barang, jangan kamu menjual barang itu lagi hingga kamu menerima barang tersebut.’” (HR. Ahmad).

Dalam hadis di atas jelas sekali bahwa Sahabat Nabi saw. bertanya kepada Rasulullah saw. dalam masalah muamalah sebelum berbuat.

Andaikata benar hukum asal muamalah itu boleh, tentu Sahabat tersebut langsung saja melakukan muamalah dan tidak usah repot-repot bertanya kepada Rasulullah saw.

Dengan demikian hadis Hakim bin Hizam ra. ini dengan jelas menunjukkan bahwa kaidah al-ashlu fi al muamalat al-ibahah adalah kaidah yang batil.

Keempat, pendapat yang menyatakan bahwa penggabungan akad (multiakad) hanya haram jika disertai unsur keharaman, tidak dapat diterima. Sebab, dalil-dalil yang melarang penggabungan akad bersifat mutlak.

Artinya, baik disertai unsur keharaman maupun tidak, penggabungan akad itu tetap haram. Perhatikan, misalnya, hadis Ibnu Mas’ud ra.:

Nabi saw. telah melarang dua kesepakatan [akad] dalam satu kesepakatan akad. (HR Ahmad)

Nash di atas mengungkapkan lafal shafqa-tayni fi shaqah wahidah (dua kesepakatan dalam satu kesepakatan) secara mutlak, yakni tanpa disertai batasan atau sifat tertentu, misalnya kesepakatan yang disertai hal-hal yang haram.

Jadi yang dilarang adalah penggabungan akad secara mutlak; tanpa melihat lagi apakah penggabungan akad ini disertai keharaman atau tidak.

Pemahaman nash yang demikian itu didasarkan pada kaidah ushul fikih yang menyebutkan: al-muthlaqu yajri ‘ala ithlaqihi ma lam yarid dalil at-taqyid (lafal mutlak tetap dalam kemutlakannya selama tidak ada dalil yang membatasinya). (2)

Dalam hal ini tidak terdapat nash yang memberikan taqyid (batasan) pada kemutlakan nash-nash tersebut. Dengan demikian penggabungan akad secara mutlak adalah haram baik disertai unsur keharaman atau tidak.

Iklan Afiliasi

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, terdapat dua kesimpulan.

  1. Pertama: multiakad merupakan masalah khilafiyah. Ada sebagian ulama yang membolehkannya. Namun, jumhur (mayoritas) ulama mengharamkannya.
  2. Kedua: pendapat yang rajih (kuat) menurut kami adalah pendapat jumhur ulama yang mengharamkan multiakad.

Sahabat, semoga kita bisa mengambil pendapat yang rajih karena memang kekuatan dalilnya. Bukan pendapat yang kita inginkan karena kepentingan diri atau bisnis kita. Sebab jika demikian sama saja kita tidak mengikuti dalil tapi mengikuti hawa nafsu kita.

Wallahu a’lam bish showaab

Catatan Kaki:

  1. Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, II/308
  2. Wahbah Az-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, 1/208

Sumber: ebook Akad Bisnis Syariah oleh Ustadz Fauzan Al Banjari


RuangMuamalah.id didukung oleh pembaca. Kami dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Komisi afiliasi ini kami gunakan untuk pengelolaan website dan perpanjangan sewa domain serta hosting. Jazakallah khoir.


 

 

#KonversiBisnisSyariah, #ArtikelUstadzFauzanAl-Banjari, Tentang Multi Akad