Skip to main content
Ilustrasi Mata Uang. Sumber: kumpulanberbagaijenis.blogspot.com

Riba: Definisi, Hukum Syara', Jenis-jenis Transaksi dan Dosanya (2/3)

Berikut kami bagikan secara maraton Materi Konversi Bisnis Syariah oleh Ustadz Fauzan Al-Banjari bagian: Riba dan Jenis Transaksinya (Bagian 2 dari 3 artikel):

DAFTAR ISI

Jenis-Jenis Transaksi Riba

Untuk memperoleh pemahaman yang utuh tentang riba maka kita dapat memperolehnya langsung melalui berbagai macam jenis praktek transaksi riba yang telah dijelaskan melalui nash.

Riba Qardh

Adalah meminjam uang atau barang kepada seseorang dengan syarat ada kelebihan atau keuntungan yang harus diberikan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman.

Rasulullah saw bersabda yang artinya:

Bila ada yang memberikan pinjaman (uang maupun barang), maka janganlah ia menerima hadiah (dari yang meminjamkannya)”. (HR. Bukhari)

Imam Bukhari juga meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Burdah bin Musa; ia berkata,

Suatu ketika, aku mengunjungi Madinah. Lalu aku berjumpa dengan Abdullah bin Salam. Lantas orang ini berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya engkau berada di suatu tempat yang di sana praktek riba telah merajalela. Apabila engkau memberikan pinjaman kepada seseorang lalu ia memberikan hadiah kepadamu berupa rumput kering, gandum atau makanan ternak, maka janganlah diterima. Sebab, pemberian tersebut adalah riba”. (HR. Bukhari)

Iklan Afiliasi

Bentuk transaksinya adalah utang piutang untuk jangka waktu tertentu dengan syarat ada tambahan pada saat pengembalian. Bunga bank dan aktivitas rentenir di tengah-tengah masyarakat jelas termasuk riba jenis ini.

Meski kadang-kadang ada juga yang menyebut tambahan tersebut sebagai infak atau biaya administrasi. Intinya ada tambahan pada pinjaman (qard) yang disyaratkan, dan itu adalah riba.

Misalnya, jika si A mengajukan utang sebesar Rp. 20 juta kepada si B dengan tempo satu tahun. Sejak awal keduanya telah menyepakati bahwa si A wajib mengembalikan utang ditambah bunga 15%, maka tambahan 15% tersebut merupakan riba yang
diharamkan.

Perlu ditegaskan bahwa dalam konteks utang (qardh), riba atau tambahan diharamkan secara mutlak tanpa melihat jenis barang yang diutang. Maka, riba jenis ini bisa terjadi pada segala macam barang. Jika si A berutang dua liter bensin kepada si B, kemudian disyaratkan adanya penambahan satu liter dalam pengembaliannya, maka tambahan tersebut adalah riba yang diharamkan.

Demikian pula jika si A berutang 10 kg buah apel kepada si B, jika disyaratkan adanya tambahan pengembalian sebesar 1kg, maka tambahan tersebut merupakan riba yang diharamkan.

Riba an-Nasiiah

Adalah tambahan yang diambil karena penundaan pembayaran utang untuk dibayarkan pada tempo yang baru.

Rasulullah saw bersabda yang artinya:

“Riba itu dalam nasiiah”. (HR. Muslim)

Ingatlah, sesungguhnya riba itu dalam nasiiah”. (HR. Muslim).

Bentuk transaksinya adalah utang-piutang tanpa syarat tambahan saat pengembalian, namun ketika jatuh tempo belum bisa dibayar, lalu diberi tempo dengan kompensasi ada tambahan. Saat ini, tambahan itu sering disebut denda keterlambatan angsuran, termasuk denda keterlambatan angsuran pada jual beli secara kredit.

Iklan Afiliasi

Contohnya, A meminjamkan uang 100 jt kepada B untuk jangka waktu 1 bulan, jika B terlambat mengembalikan (tempo ditambah) maka B harus membayar 10% dari hutangnya.

Tambahan pembayaran di sini bisa saja sebagai bentuk sanksi atas keterlambatan si B dalam melunasi hutangnya, atau sebagai tambahan hutang baru karena pemberian tenggat waktu baru oleh si A kepada si B. Tambahan inilah yang disebut dengan riba nasii’ah.

Ada yang berpendapat, jika tidak disyaratkan sejak awal, yaitu karena inisiatif peminjam sendiri, apalagi dalam bentuk selain uang, hal itu boleh karena merupakan hadiah. Pendapat ini keliru. Tambahan yang termasuk ribâ itu tidak mesti tambahan berupa uang. Semua bentuk tambahan berupa manfaat lain yang muncul dari pinjam-meminjam itu, termasuk riba.

Fadhalah bin ‘Ubayd menuturkan, Rasulullah saw. pernah bersabda:

"Setiap pinjaman yang menarik suatu manfaat maka itu termasuk salah satu bentuk riba." (HR. al-Bayhaqi).

Yahya bin Abi Ishaq al-Huna’i menuturkan:

"Aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik tentang seseorang yang meminjami saudaranya harta, lalu saudaranya itu memberinya hadiah. Anas berkata, Rasulullah saw. pernah bersabda: ”Jika salah seorang di antara kalian meminjamkan suatu pinjaman (utang), lalu peminjam memberinya hadiah atau membawanya di atas hewan tunggangan maka jangan ia menaikinya dan jangan menerima hadiah itu, kecuali yang demikian itu biasa terjadi di antara keduanya sebelum pinjam-meminjam itu". (HR. Ibn Majah).

Berdasarkan nash-nash tersebut, Imam Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan, bahwa pinjaman yang memunculkan suatu manfaat, jika hal itu telah disyaratkan, maka tanpa ada perbedaan sedikitpun, haram. Demikian juga jika seseorang meminjami tanpa ada syarat, lalu peminjam mengembalikan dengan ada tambahan uang atas uang yang ia pinjam.

Iklan Afiliasi

Adapun jika peminjam memberi hadiah (selain uang) sebagai tambahan atas apa yang ia pinjam maka perlu dilihat, jika kebiasaannya (tanpa ada pinjaman) adaah suka memberi hadiah terhadap orang itu, maka tidak apa-apa dan orang itu (pemberi pinjaman) boleh menerimanya; jika tidak, sesuai dengan hadis Anas di atas, maka pemberi pinjaman itu tidak boleh menerimanya.

Riba Yadd

Adalah Riba yang disebabkan karena penundaan (tidak kontan) pada pertukaran barang-barang ribawi. Dengan kata lain, kedua belah pihak yang melakukan pertukaran uang atau barang telah berpisah dari tempat aqad sebelum diadakan serah terima.

Dalilnya adalah hadis riwayat Ubadah bin Shamit menuturkan bahwa Rasul saw. pernah bersabda yang artinya:

Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya‘ir dengan sya‘ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam; sama, seimbang, dan kontan. Jika berbeda jenis barangnya, maka perjualbelikanlah sesuai dengan cara yang kalian suka apabila dilakukan secara kontan" (HR. Muslim).

Barra' bin Azib ra.: ia berkata: Dari Abul Minhal ia berkata: Seorang kawan berserikatku menjual perak dengan cara kredit sampai musim haji lalu ia datang menemuiku dan memberitahukan hal itu. Aku berkata: Itu adalah perkara yang tidak baik. Ia berkata: Tetapi aku telah menjualnya di pasar dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Maka aku (Abul Minhal) mendatangi Barra' bin 'Azib dan menanyakan hal itu. Ia berkata: Nabi SAW tiba di Madinah sementara kami biasa melakukan jual beli seperti itu, lalu beliau bersabda: “Selama dengan serah-terima secara tunai, maka tidak apa-apa. Adapun yang dengan cara kredit maka termasuk riba”. (HR. Muslim)

Apa yang dilakukan secara tunai maka ambillah. Apa yang dilakukan secara tempo (kredit) maka tinggalkanlah." (HR. Bukhari).

 

Bersambung ke bagian tiga

 

Dikutip dan diedit dari Materi OnTrain 100 Mentor Konversi Bisnis Syariah berjudul "Riba dan Jenis Transaksinya" oleh Ustadz Fauzan Al-Banjari.

 


RuangMuamalah.id didukung oleh pembaca. Kami dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Komisi afiliasi ini kami gunakan untuk pengelolaan website dan perpanjangan sewa domain serta hosting. Jazakallah khoir.


 

 

 

#KonversiBisnisSyariah, #ArtikelUstadzFauzanAl-Banjari, #RibaDanTransaksinya