Skip to main content
Ilustrasi Membeli Barang Online

Seputar Wakalah: Pengertian, Hukum, Rukun Hingga Ketentuannya

Berikut pembahasan Akad Wakalah, yang mencakup tentang pengertiannya, hukum Islamnya, rukun-rukunnya, ketentuan dan syariat wakalah bil ujroh:

DAFTAR ISI

Pengertian Wakalah

Wakalah menurut bahasa artinya adalah "menyerahkan" atau "menjaga". Scara bahasa, boleh dibaca wakalah, boleh wikalah.

Sedangkan wakalah dalam istilah syara adalah tindakan seseorang menyerahkan urusannya kepada orang lain pada urusan yang dapat diwakilkan [menerima adanya niyabah (keterwakilan)], agar orang lain itu mengerjakan urusan tersebut pada saat hidupnya orang yang mewakilkan.

Contoh: Seorang wali mewakilkan kepada petugas KUA (wali hakim) untuk menikahkan anak perempuannya.

Niyabah atau keterwakilan adalah tindakan seseorang menempati posisi orang lain dengan seizin orang lain itu untuk melakukan tasharruf sedemikian rupa sehingga akibat-akibat hukum dari tasharruf ini akan beralih kepada orang lain itu.

Iklan Afiliasi

Hukum Wakalah

Wakalah hukumnya boleh (jaiz), berdasarkan dalil-dalil Al-Qur`an dan al-Hadits.

"Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". (TQS. At-Taubah [9] : 60)

Ayat di atas, menunjukkan bolehnya wakalah. Sebab amil zakat bertugas mengumpulkan dan membagikan zakat. Pada saat mengumpulkan zakat, berarti amil zakat menjadi wakil para mustahiq untuk mendapatkan hak mereka.

"Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan." (TQS. an-Nisaa' [4] : 35).

Ayat di atas menunjukkan bolehnya wakalah. Karena hakam (juru damai) adalah wakil dari suami dan dari isteri yang bersengketa.

"Meriwayatkan Jabir bin Abdullah RA, dia berkata,"Saya bermaksud keluar ke Khaibar lalu aku mendatangi Rasulullah SAW dan berkata kepada beliau,"Sesungguhnya aku akan keluar ke Khaibar. Rasulullah SAW berkata, Datangilah wakilku dan ambilllah darinya 15 wasaq. Kalau dia minta suatu tanda darimu, letakkan tanganmu pada pundaknya." (HR. Abu Dawud).

Rukun Wakalah

  1. Muwakkil (orang yang mewakilkan).
  2. Wakil (orang yang mewakili).
  3. Muwakkal Fiihi (urusan yang diwakilkan).
  4. Shighat (ijab kabul).

Syarat-Syarat Pada Rukun Akad Wakalah

Muwakkil (orang yang mewakilkan).

Syarat muwakkil adalah mempunyai ahliyyah at-tashorruf (kecakapan melakukan tasharruf) yaitu : berakal (aqil), mumayyiz, dan tidak ada ikrah (paksaan). Jadi, tidak sah orang gila dan anak kecil yang belum mumayyiz menjadi muwakkil (atau orang yang mewakilkan).

Iklan Afiliasi

Wakil (orang yang mewakili).

Syarat: mempunyai ahliyyah at-tashorruf. (Syaratnya sama seperti syarat muwakkil). Jadi, tidak sah orang gila dan anak kecil yang belum mumayyiz menjadi wakil dari orang lain.

Muwakkal Fiihi (urusan yang diwakilkan):

Syaratnya ada 2 (dua), yaitu:

Urusan itu dapat diwakilkan (yaqbalu al-niyabah). Kaidah fiqih:

"Setiap apa saja tasharruf yang boleh dilakukan sendiri oleh seseorang, boleh bagi dia mewakilkan [kepada orang lain] atau boleh juga dia mewakili [orang lain]."

Maka sah akad wakalah pada akad jual beli, ijarah, rahn, nikah, dsb. Namun tidak sah akad wakalah pada segala sesuatu yang diharamkan, misalnya memungut riba, membeli khamr, membeli babi/bangkai/najis, berjudi, dll.

Tidak sah pula akad wakalah pada ibadah mahdhah badaniyah yang tidak dapat diwakilkan kepada orang lain, seperti thaharah, puasa, sholat lima waktu, sholat Jumat. Kecuali beberapa ibadah, seperti haji dan pembagian zakat.

Muwakkil mempunyai kewenangan / otoritas (al-wilayah) pada perkara yang diwakilkan.

Contoh: kalau seseorang mewakilkan untuk menjual barang yang akan dimilikinya nanti, maka wakalahnya tidak sah.

Shighat (ijab kabul).

Ada 2 (dua) syarat untuk shighat.

Pengucapan lafal.

Untuk pihak muwakkil disyaratkan pengucapan dengan lafal yang menunjukkan keridhoannya.

Misalnya ucapan, "Saya wakilkan kepada anda untuk membeli ini." (wakkaltuka fi syiraa`i kadza).

Adapun dari pihak wakil, tidak disyaratkan pengucapan dengan lafal, tapi syaratnya adalah tidak adanya penolakan dari wakil.

Iklan Afiliasi

Kalau pihak wakil menyatakan penolakannya, misal dia berkata, "Saya tidak menerima perwakilan ini." (laa aqbal), maka akad wakalahnya tidak sah.

Shighat wakalah tidak digantungkan (ta'liq) pada suatu syarat tertentu.

Misal, tidak sah akad wakalah dengan mengucapkan, "Kamu akan menjadi wakilku untuk urusan ini, jika Fulan datang dari perjalanan."

Konsekuensi hukum akad wakalah

  1. Wakil tidak berhak mewakilkan lagi kepada orang lain pada pekerjaan yang dilakukannya, kecuali atas izin muwakkil.
  2. Wakil tidak menjamin kerusakan sesuatu yang diwakilkan kepadanya, kecuali karena kelalaian / kesengajaan dari pihak wakil.
  3. Pihak wakil atau muwakkil berhak memfasakh (membatalkan) akad wakalah kapan saja. Jika salah satunya mati atau gila, maka akad wakalah menjadi fasakh (batal).

Wakalah Bil Ujrah

Wakalah boleh dilakukan tanpa ujrah (upah), boleh pula dilakukan dengan ujrah (wakalah bil ujrah). Syaikh Wahbah Zuhaili berkata:

"Wakalah sah dengan upah atau tanpa upah. Sebab Nabi SAW dulu pernah mengutus para amilnya untuk menerima zakat dan memberikan kepada mereka upah. Karena itulah salah satu anak paman beliau berkata kepada Nabi, "Hendaklah Anda mengutus kami untuk mengambil zakat, lalu kami menunaikan tugas kami untuk Anda sebagaimana yang dilakukan orang lain, dan kami pun memperoleh apa [upah] sebagaimana yang diperoleh orang lain."(1)

ilustrasi akad wakalah

Jika wakalah dilakukan tanpa upah, itu adalah suatu kema'rufan dari pihak wakil. Jika dilakukan dengan upah, maka hukum wakalahnya mengikuti hukum akad ijarah.

 

WalLah a'lam bi ash-shawab.

Catatan Kaki

  1. Az-Zuhaili, 2002: 4058

 

Sumber: eBook WAKALAH oleh Ustadz Fauzan Al Banjari

RuangMuamalah.id didukung oleh pembaca. Kami dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Komisi afiliasi ini kami gunakan untuk pengelolaan website. Terima kasih.

Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

#KonversiBisnisSyariah, #ArtikelUstadzFauzanAl-Banjari