Skip to main content
Ilustrasi Mobil Rental Sewaan

Syirkah Al-Amlak: Pengertian, Hukum Islam, Rukun Hingga Ketentuannya

Berikut beberapa informasi seputar kerjasama bisnis (syirkah) Al-Amlak, mulai pengertian, hukum syariah Islamnya, hingga ketentuan seputar pelaksanaannya:

DAFTAR ISI

Pengertian syirkah al-Amlak

Syirkah al-Amlak atau syirkah al-a’yân adalah kepemilikan bersama atas suatu benda, semisal kepemilikan bersama atas harta yang diwarisi oleh dua orang, atau harta yang dibeli oleh dua orang, atau harta yang dihibahkan orang lain kepada dua orang. (1)

Ilustrasinya sebagai berikut:

Skema Syirkah Amlak Pada Usaha Rental Mobil

Hukum Syirkah al-Amlak

Syirkah al-Amlak hukumnya Jaiz (boleh) berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. (2) Diantaranya dalilnya adalah:

“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; ...” (TQS. an-Nisa: 11).

Iklan Afiliasi

Pada ayat di atas Allah subhanahu wata’ala telah menjadi harta waris sebagai harta yang dimiliki bersama oleh anak-anak yang ditinggalkan.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (TQS. At-Taubah: 60)

Pada ayat ini Allah telah menjadikan delapan asnaf (kelompok) sebagai orang-orang yang memiliki bersama harta zakat. (3)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

"Barangsiapa memiliki serikat dalam suatu rumah atau sebidang kebun, maka dia tidak berhak menjualnya sebelum mendapatkan izin dari serikatnya. Jika mau ia bisa membelinya, jika mau ia juga bisa meninggalkannya (tidak membelinya)." (HR. Muslim)

Hadits ini memberikan faedah kepada kita tentang adanya kepemilikan bersama atas suatu benda, dimana satu dengan yang lainnya terikat dalam kepemilikan atas benda tersebut. (4)

Rukun Syirkah al-Amlak

Rukun syirkah al-Amlak sebagaimana rukun pada akad secara umum yaitu:

  1. Al-‘âqidâni; dua pihak yang berakad.
  2. ash-shighat; yaitu ijab dan qabul.
  3. al-ma’qûd ‘alayh; obyek akad yaitu benda atau barang yang dimiliki bersama.

Iklan Afiliasi

Ketentuan Syirkah al-Amlak

Dalam syirkah ini, disyaratkan obyek akadnya yaitu benda atau barang (‘urûdh) telah dimiliki bersama saat akad, sehingga dapat diakadkan untuk dikelola secara bersama-sama untuk suatu usaha.

Dalam syirkah ini, tidak disyaratkan jumlah bagian kepemilikan dari masing-masing pihak terhadap barang tersebut harus sama.

Terkait aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh para pihak dalam syirkah ini menurut Syaikh ‘Atha Abu Rasytah (2014); masing-masing boleh diberikan upah (ujrah) atas pekerjaannya.

Sebab obyek dari akad syirkah ini hanya terjadi benda yang dimiliki bersama dan tidak pada badan (‘amal) atau kerja dari para pihak yang bersyirkah.

Oleh karena itu, salah seorang syarik (mitra) dalam syirkah tersebut boleh mempekerjakan tenaganya untuk syirkah. Misalnya ia boleh bekerja sebagai sopir dengan upah jika syirkah tersebut terjadi atas kendaraan (mobil).

Upah sopir bukan dari laba, sebab seorang pekerja (ajir) mengambil upahnya yang disepakati karena ia menunaikan pekerjaannya.

Jika upah itu dikaitkan dengan laba, kadangkala tidak ada laba, dan karenanya tidak ada upah (ujrah), dan ini tidak boleh secara syar’iy sebab seorang ajir itu berhak mendapat ujrah jika ia menunaikan pekerjaannya, baik syirkah itu untung atau rugi.

Iklan Afiliasi

Ibn Majah telah mengeluarkan di dalam Sunan-nya dari Abdurrahman bin Yazid bin Aslam dari bapaknya dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

“Berikan kepada seorang ajir upahnya sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibn Majah)

Sehingga dalam syirkah ini, jika ada pihak bekerja kepada syirkahnya maka ia boleh memperoleh upah dan bagi hasilnya. Dan keduanya tidak boleh dikaitkan. Keuntungan dari usaha diantara yang bersyirkah didasarkan pada kesepakatan bersama.

Mereka bisa membaginya sama rata (fifty-fifty) dan boleh juga tidak sama. Ali ra. berkata:

“Laba itu bergantung pada apa yang mereka sepakati bersama.” (HR. Abdurrazzak, di dalam al-Jami’)

Sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing mitra usaha (syarîk) berdasarkan porsi kepemilikannya atas benda.

Jadi misalnya, jika masing-masing porsi kepemilikannya adalah 50%, maka masing-masing menanggung kerugian sebesar 50%.

Para pihak syirkah ini tidak boleh mensyaratkan kerugian berdasarkan kesepakatan, melainkan wajib sesuai dengan porsi kepemilikan benda yang mereka jadikan modal dalam syirkah ini.

Dalilnya sebagaimana diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam kitab Al-Jâmi‘, bahwa Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata,

"Kerugian didasarkan atas besarnya modal” (HR. Abdurrazzak)

Wallahu’alam.

Catatan Kaki

  1.  An-Nabhani, 2004: 149-150
  2. Kholil, 1981: 26-27
  3. Kholil, 1981: 27
  4. Kholil, 1981: 27

Sumber: eBook SYIRKAH AL-AMLAK oleh Ustadz Fauzan Al Banjari


RuangMuamalah.id didukung oleh pembaca. Kami dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Komisi afiliasi ini kami gunakan untuk pengelolaan website dan perpanjangan sewa domain serta hosting. Jazakallah khoir.


 

 

 

#KonversiBisnisSyariah, #ArtikelUstadzFauzanAl-Banjari