Skip to main content
Ilustrasi Jual Beli Di Pasar Modern

Tentang Akad Al-Bay': Persyaratan Jual Beli Tidak Sah dan Dilarang

Dalam membangun sebuah usaha, para pengusaha tidak akan pernah terlepas dari aktivitas jual beli untuk memenuhi penawaran dan permintaan usahanya. Baik dalam memenuhi peralatan produksi, bahan baku, sampai dengan produk jadi yang akan dipasarkan.

Oleh karenanya sangat penting bagi para calon pengusaha dan pengusaha untuk memahami tentang jual beli yang boleh dan terlarang menurut syariah, sehingga usaha yang di bangunnya benar-benar berasaskan syariah Islam.

DAFTAR ISI

Iklan Afiliasi

Ketentuan Jual Beli

Persyaratan jual-beli yang dianggap tidak sah.

Mengumpulkan 2 akad dalam satu transaksi jual-beli.

Contoh: Pembeli mengatakan, "Saya jual budak ini kepada Anda seharga 1000 dinar, dengan syarat, Anda harus menjual rumah Anda kepada saya seharga sekian." Artinya, "Jika Anda menetapkan milik Anda menjadi milik saya, saya pun akan menetapkan milik saya menjadi milik Anda." Ini berdasarkan riwayat Ibn Abbas ra. yang menyatakan:

“Nabi saw. telah melarang dua pembelian dalam satu pembelian.”(HR Ibn Hibban, at- Tirmidzi, al-Baihaqi, dan Malik).

Dalam riwayat lain Ibn Mas‘ud ra. menuturkan:

“Rasul saw. telah melarang dua akad dalam satu akad.”(HR ath- Thabrani).

Mensyaratkan sesuatu yang merusak asal hukum jual-beli.

Contoh: Seorang penjual binatang ternak mensyaratkan kepada pembelinya untuk tidak menjual kembali ternaknya atau tidak menjualnya kepada si fulan A, atau tidak menghadiahkan kepada si fulan B; atau penjualnya mensyaratkan kepada pembeli supaya dipinjami atau dijual kepadanya suatu barang. Ini berdasarkan sabda Nabi saw.:

“Tidak halal menyatukan pinjaman dengan penjualan, menyatukan dua syarat dalam satu akad jual-beli, dan menjual barang yang bukan milikmu.”(HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, ad-Daruqutni, dan al-Hakim).

Persyaratan batil yang akadnya dianggap sah, namun syarat tersebut dianggap batal.

Contoh: penjual mensyaratkan agar tidak dirugikan saat menjual kepada pembeli atau penjual mensyaratkan kepemilikan budak yang dijualnya kepadanya. Persyaratan dalam kedua contoh di atas dikategorikan batal, sedangkan jual-belinya dianggap sah. Ini berdasarkan sabda Rasul saw.:

“Siapa saja yang mensyaratkan suatu syarat yang tidak terdapat dalam Kitab Allah (al-Quran) maka persyaratannnya batil, meskipun seratus syarat.”(HR al-Bukhari, Ibn Hibban, Ibn Majah, ad-Daruqutni, an-Nasa’i).

Jual-Beli yang Dilarang

Rasul saw. telah melarang beberapa macam jual-beli, yakni yang di dalamnya terdapat unsur penipuan (gharar), yang menjadikan pelakunya memakan harta orang lain dengan cara yang batil; juga yang melahirkan kedengkian, perselisihan, dan permusuhan di antara umat Islam secara khusus dan umat manusia secara umum.

Jual-beli yang diharamkan tersebut disebabkan karena adanya rukun atau syarat in’iqad dari akad yang dilanggar atau hilang. Di antaranya adalah:

Jual-beli barang yang belum diterima.

Tidak boleh seorang Muslim membeli barang, kemudian menjualnya, sebelum ia menerimanya dari penjual, hal ini disebabkan oleh
belum sempurnanya kepemilikan terhadap barang. Ini berdasarkan Hadis Rasul saw.:

“Jika kamu membeli sesuatu, janganlah kamu menjualnya sebelum kamu menerimanya terlebih dulu.”(HR Ibn Hibban).

Jual-beli barang yang sudah dibeli oleh seorang Muslim.

Tidak boleh seorang Muslim membeli suatu barang yang telah dibeli oleh saudaranya sesama Muslim. Contoh: seseorang membeli suatu barang dengan harga 5 ribu rupiah, lalu seorang Muslim berkata kepada penjualnya, "Kembalikan uang itu kepada pemiliknya, pasti akan saya beli barang itu dari Anda seharga 6 ribu rupiah." Ini berdasarkan Hadis Rasul saw.:

“Janganlah sebagian di antara kalian membeli barang yang telah dibeli oleh sebagian orang Islam lainnya.”(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini berisi larangan yang tegas bahwa seseorang tidak boleh membeli barang yang sudah dibeli saudaranya.

Iklan Afiliasi

Jual beli najasy.

Tidak boleh seorang Muslim menawar suatu barang tanpa bermaksud untuk membelinya, tetapi dimaksudkan supaya para pembeli tertarik untuk ikut membeli dan menawar dengan harga yang lebih tinggi; baik itu merupakan hasil persengkongkolan dengan sahabatnya atau tidak.

Ini berdasarkan riwayat dari Ibn Umar ra.:

Rasul saw. telah melarang jual-beli dengan sistem najasy. (HR. al-Bukhari).

Jual-beli barang haram dan barang najis.

Tidak boleh seorang Muslim menjual barang haram dan barang najis serta barang yang membawa pada sesuatu yang diharamkan.

Contoh: tidak boleh memperjualbelikan minuman keras, daging babi, bangkai, narkoba, atau anggur kepada seseorang untuk dijadikan minuman keras; atau memperjualbelikan patung dan barang yang haram dibuat seperti gambar bernyawa yang dilukis oleh tangan (seperti manusia dan hewan).

Ini berdasarkan Hadis Rasul saw.:

“Sesungguhnya Allah Swt. dan Rasul-Nya telah mengharamkan menjual minuman keras, bangkai, daging babi, dan patung berhala”.(HR al-Bukhari dan Muslim).

Jual-beli yang di dalamnya terdapat unsur gharar.

Contoh:

  • menjual ikan yang masih berada di kolam,
  • bulu domba yang masih melekat di punggung domba,
  • menjual janin binatang yang masih ada dalam perut induknya,
  • menjual air susu yang masih berada dalam ambingnya;
  • menjual buah-buahan yang belum matang;
  • menjual barang yang tidak boleh dilihat atau diperiksa;
  • menjual barang tanpa menjelaskan sifat, jenis, dan beratnya jika barangnya tidak ada pada si penjual.

Ini berdasarkan sabda Rasul saw.:

"Janganlah kalian membeli ikan yang masih ada dalam air karena hal itu gharar." (HR Ahmad dan ath-Thabrani).

Dalam riwayat lain Ibn Umar ra. menuturkan:

"Rasul saw. telah melarang untuk menjual kurma kecuali ia dapat dimakan, atau bulu domba yang masih melekat di punggung domba, atau air susu yang masih berada dalam ambingnya, atau samin (mentega) yang masih berupa air susu." (HR al-Baihaqi dan ad-Daruqutni).

Dalam riwayat yang lain lagi juga disebutkan:

“Nabi saw. telah melarang menjual buah-buahan sehingga matang.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Para ulama sepakat untuk melarang jual-beli barang yang tidak ada. Ini adalah syarat in‘iqâd menurut para ulama Hanafiyah. Termasuk jual-beli barang yang tidak ada adalah menjual buah yang belum matang seperti disinggung dalam hadis di atas.

Iklan Afiliasi

Dua Jual-beli dalam satu jual beli.

Tidak boleh seorang Muslim melakukan dua jual-beli dalam satu jual beli. Sebab, di dalamnya mengandung unsur kesamaran yang dapat menyakiti atau merugikan orang lain dan memakan hartanya dengan cara yang tidak benar.

Contoh: seseorang berkata, "Aku menjual rumah ini kepada Anda dengan harga sekian, dengan syarat, Anda menjual kendaraan Anda kepada saya dengan harga sekian."

Hal ini berdasarkan hadits bahwa Rasul saw. telah melarang dua jual beli dalam satu jual beli (dalam satu akad).

“Nabi saw. telah melarang adanya dua jual-beli dalam satu jual-beli” (HR. at-Tirmidzi, hadis sahih).

“Rasulullah SAW melarang (kaum muslimin) dua perjanjian dalam satu perjanjian“ (HR Ahmad).

Jual-beli barang yang tidak dimiliki atau belum sempurna kepemilikannya

Termasuk dalam hal ini adalah barang yang tidak bisa diserahkan. Adapun barang yang tidak disyaratkan sempurna kepemilikannya adalah barang yang tidak ditimbang, ditakar, dan dihitung seperti rumah, dll.

Contoh: seorang pedagang kecil menawarkan barang yang tidak dia miliki kepada pembeli. Ketika pembeli tersebut menyepakati harganya, lalu penjual tersebut pergi ke pembeli lain untuk membeli barang yang dibeli tersebut, maka hukumnya haram; demikian pula orang yang mengimpor barang dari negara lain dan melakukan penjualan barang tersebut sebelum tiba di negerinya.

Walhasil, tidak boleh seorang Muslim menjual barang yang tidak ada padanya atau yang belum dimilikinya, karena hal itu dapat menyakitkan pembeli ketika barang yang dibelinya ternyata tidak ada. Ini berdasarkan riwayat dari Rasul saw.:

"Janganlah kamu menjual suatu barang yang tidak ada padamu."(HR Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibn Majah, dan at-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Rasul saw. telah melarang menjual suatu barang sebelum ia menerimanya. (1)

Jual-beli dengan sistem Al-‘Inah.

Tidak boleh seorang Muslim menjual suatu barang hingga batas waktu tertentu, kemudian ia membeli lagi barang tersebut dari sang pembeli dengan harga yang lebih murah ketika dibeli secara kredit.

Jual beli semacam ini haram dan batil karena adanya larangan tegas atasnya.Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi SAW.pernah bersabda:

“Jika manusia bakhil dengan dinar dan dirham, berjual beli secara al-‘inah, mengikuti ekor sapi dan meninggalkan jihad di jalan Allah, niscaya Allah menurunkan kehinaan kepada mereka. Allah tidak mengangkatnya dari mereka hingga mereka kembali pada agama mereka”. (HR. Ahmad dan ath-Thabrani)

 

WalLah a'lam bi ash-shawab.

Catatan Kaki

  1.  HR. al-Bukhari

 

Sumber: eBook AKAD AL-BAY’ oleh Ustadz Fauzan Al Banjari


RuangMuamalah.id didukung oleh pembaca. Kami dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Komisi afiliasi ini kami gunakan untuk pengelolaan website dan perpanjangan sewa domain serta hosting. Jazakallah khoir.


 

 

#KonversiBisnisSyariah, #ArtikelUstadzFauzanAl-Banjari, Akad Jual Beli